Artikel

RAB dalam pendewasaan organisasi

Rencana Anggaran Belanja sebuah organisasi menunjukkan rencana kesuksesan organisasi. Suatu RAB yang BAIK merupakan kesepakatan bersama dari individu/departemen yang membangun organisasi tersebut. Kesepakatan bersama merupakan hasil kerja keras individu/departemen untuk menyusun anggaran yang dibutuhkan departemennya dengan pertimbangan-pertimbangan yang tidak mudah. Sehingga kita wajib menghargai sebesar-besarnya kepada individu/departemen yang telah menyusun anggaran.

Setelah individu/depatemen menyusun, langkah selanjutnya adalah bermusyawah. Dalam musyawarah RAB tersebut, sekali lagi kita sangat menghormati rekan-rekan yang akhirnya bersedia mengurangi anggaran departemennya disebabkan keterbatasan, kebutuhan maupun urgenitas anggaran. Sehingga akhirnya RAB dapat tersusun dan dianggap baik.

RAB bisa dikatakan baik dan benar, namun juga bisa dikatakan baik dan salah.

RAB adalah Rencana Anggaran Belanja; Seyogyanya jika sebuah anggaran belanja diinterpretasikan sebagai banyaknya biaya yang akan dikeluarkan dalam satu tahun/semester untuk keperluan-keperluan organisasi dan dalam pembuatannya dilakukan bersama maka RAB tersebut BAIK.

RAB BAIK tersebut dapat menjadi salah, manakala dalam penyusunan tidak mempertimbangkan pendapatan dari organisasi.  Kita yakin sepakat, jika pengeluaran lebih besar dari pendapatan maka organisasi tersebut di akhir-akhir waktu akan mengalami kemunduran. Sehingga tahapan penyusunan RAB tidaklah hanya kesepakatan bersama tetapi wajib memasukkan logika besar tiang daripada pasak.

Akhirnya meskipun pepatah besar tiang daripada pasak tidak populer, namun pepatah tersebut dapat menjadikan RAB BAIK & BENAR.


Peran Manajemen dalam keteraturan dan penjadwalan mata kuliah.

Kurikulum pendidikan disusun sedemikian rupa sehingga terbagi-bagi menjadi beberapa semester sampai akhirnya seluruh mata kuliah yang disajikan dapat dinikmati oleh mahasiswa. Sebagai contoh mahasiswa akan mudah mencerna kuliah matematika terapan yang disampaikan oleh dosen manakala mahasiswa tersebut sudah mempelajari matematika 1, matematika 2 dan matematika 3. Prasyarat dari suatu mata kuliah yang akan diambil seharusnya menjadi pertimbangan yang mungkin tidak bisa diabaikan. Atau dalam logika lain, pengabaian terhadap mata kuliah prasyarat merupakan kurang baiknya pengelolaan manajemen di akademik.

Suatu kondisi yang tidak mendukung seharusnya menjadi tantangan untuk membuat tujuan bersama dalam rangka menyusun jadwal yang menuju keteraturan akademik. Manfaat keteraturan sangat indah dinikmati dan memudahkan proses selanjutnya.

Diskusi Bersama Perlu di Bangun, saya bersedia menjadi nara sumber diskusi di perguruan tinggi mana saja jika memang diperlukan.



Job Des & Dokumen

Job Des adalah parameter minimal dari waktu yang digunakan sebaik-baiknya untuk melaksanakan tugas yang diemban seseorang. Sebuah perusahaan semakin profesional akan terlihat dari ketersusunan job des dari karyawan yang bekerja. Sebaliknya perusahaan yang amatir cenderung meninggalkan job des sehingga sulit mengembangkan potensi dan kemajuan yang sebetulnya bisa diraih oleh karyawan ataupun perusahaan.

Suatu perusahaan yang ingin maju, maka akan mengevaluasi diri perusahaan tersebut. Salah satu bagian dari evaluasi diri adalah sudah optimalkah sdm bekerja? sudah sesuaikah sdm bekerja menurut bagiannya? apakah ada tumpang tindih pekerjaan yang dilakukan? perlukah ditambah sdm yang ada? perlu dikurangikah sdm yang ada? kenapa harus ditambah? kenapa harus dikurangi? perlukah gajinya ditambah? atau mungkin perlu dikurangi gajinya?

Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, jika job des belum dimiliki. Dan kapan perusahaan akan memulai memiliki?

Dokumen adalah catatan, surat, perencanaan, laporan atau arsip yang mempunyai arti atau nilai yang sangat penting bagi perusahaan. Kemampuan membuat dokumen adalah masalah tersendiri dalam perusahaan. Bahkan kadang-kadang masalah besar atau yang remeh muncul karena suatu dokumen belum ada, tidak ada  atau hilang.

Dokumen ini sebenar-benarnya adalah hasil kerja orang-orang profesional, sebab tidak semua orang bisa membuat dokumen. Kenapa? karena membuat dokumen diperlukan kemampuan membuat dan yang bisa membuat adalah hanya orang yang "berpendidikan". Karena jika tidak berpendidikan orang tersebut mungkin hanya sebagai operator, tukang kebun atau dan lainnya.

Menulis bukan pekerjaan mudah, seperti kata pak eka" Mengarang itu lebih susah dibanding
kan matematika".

Peran dokumen minimalnya sebagai catatan yang mengingatkan kita. Peran besarnya adalah sebagai dasar kita bekerja, sebagai dasar prestasi kerja, sebagai dasar rujukan problem solving dan sebagai dasar membuat dokumen-dokumen selanjutnya.

Tanpa saya jelaskan....kita sudah tahu bagaimana susahnya membuat dokumen untuk akreditasi.

Salah satu job des pimpinan adalah membuat, memiliki dokumen dari pekerjaannya atau bawahannya. Dimana dokumen tersebut disimpan, dirapikan dan dilaporkan keatasannya sebagai kesatuan dokumen besar perusahaan. Pimpinan dimaksud bisa ka-sub, ka-bag, manajer, ka-prodi, sekretaris perusahaan apalagi sekretaris yayasan.

Membangun kualitas memang berat karena budaya lisan lebih dominan. Tapi saya harus memulai mendorong  bahwa tahapan pembuatan dokumen harus segera dimulai. Awalnya dokumen strategis dilanjutkan dokumen teknis.

Sebagai penutup, bahwa job des dan dokumen ini bagaikan dua sisi dari selembar mata uang. Dimana mata uang akan bernilai jika kedua sisinya memang ada. Selamat merenungkan!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar